Segaris.co
Minggu, 18 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom
Pimpinan Redaksi Segaris.co, INGOT SIMANGUNSONG

Pimpinan Redaksi Segaris.co, INGOT SIMANGUNSONG

ke-ABADI-an bunga EDELWEIS dan ke-DEMOKRASI-an

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
1 Februari 2024 | 23:41 WIB
in Kolom

Catatan | Ingot Simangunsong

Bunga Edelweis (Leontopodium alpinum) adalah bunga yang tumbuh di daerah pegunungan tinggi, khususnya di wilayah alpen di Eropa.

Namun, bunga ini juga ditemukan tumbuh di pegunungan tinggi di Asia, termasuk di Indonesia.

Ciri khas utama dari bunga Edelweis adalah kecantikan dan ketahanannya terhadap cuaca ekstrem di pegunungan.

Bunga ini memiliki warna putih bersih dan tumbuh di tanah yang berbatu atau berpasir. Daunnya berbulu-bulu halus untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik dan suhu dingin di pegunungan.

Bunga Edelweis memiliki makna yang mendalam dalam budaya populer.

Di beberapa negara, bunga ini dianggap sebagai simbol keabadian, keberanian, dan cinta yang tulus.

Keindahannya yang khas dan keberadaannya yang langka membuatnya sering menjadi objek legenda dan cerita rakyat di daerah pegunungan.

Di Indonesia, bunga Edelweis ditemukan tumbuh di beberapa pegunungan tinggi, seperti di Gunung Papandayan, Gunung Gede, dan Gunung Rinjani.

Kehadirannya menambah pesona alam pegunungan Indonesia yang mempesona.

Namun, popularitas bunga Edelweis juga membawa dampak negatif. Karena keindahannya, bunga ini sering dipetik oleh para pendaki gunung sebagai tanda prestasi atau kenang-kenangan.

Hal ini menyebabkan penurunan populasi bunga Edelweis di beberapa daerah.

Oleh karena itu, upaya konservasi dan perlindungan terhadap bunga Edelweis menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan dan keberadaannya di alam.

Dengan kecantikannya yang abadi dan simbolisme yang mendalam, bunga Edelweis tetap menjadi daya tarik yang menakjubkan bagi pengunjung pegunungan tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Apa kaitannya dengan ke-demokrasi-an di negeri kita, INDONESIA. Tentu tidak ada sama sekali “benang merah” yang kental untuk mempertemukan bunga Edelweis dengan ke-demokrasi-an.

Yang terasa hanya kesamaan aroma, yakni penurunan populasi sehingga sangat dibutuhkan AKAL SEHAT untuk menjaga keberlangsungan dan keberadaan bunga Edelweis dan ke-demokrasi-an di alam raya, NUSANTARA.

[ Betapa… sempat terasa indahnya ritme ke-demokrasi-an yang dibayar mahal dalam gelegar REFORMASI 1998 dan meregangkan puluhan nyawa.

Pesta demokrasi — masih layakkah disebut — yang akan digelar 14 Februari 2024, menjadi tersandera keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang meloloskan seorang calon wakil presiden di luar nalar dan akal sehat.

Ke-demokrasi-an yang lulu-lantak di ruang kekuasaan, yang tidak disangka-sangka bergerak ke arah berlawanan dan mengabaikan kebersamaan yang sudah terjalin demikian lamanya.

Tidak sedikit yang harus patah arang karena perubahan yang membuat rasa mual karena muak.

Apa yang pernah ditulis tentang ketulusan hati, ternyata hanya sekadar casing yang menutupi kondisi sebenarnya, busuk dan bernana.]

Bunga Edelweis [ walau sedang berjuang mempertahankan populasi ], diharapkan dapat menjadi lambang keabadian rasa cinta tulus bagi para pengabdi ke-demokrasi-an di alam raya, NUSANTARA.

Jika air mata almamater pun tidak digubris karena perubahan alur pikir tak adab, biarlah itu mati dalam senyapnya.

Bagi akal SEHAT, bunga Edelweis diposisikan pada tangan calon pemimpin yang setia berada di ruang ke-demokrasi-an.

Ke-demokrasi-an harus tegak lurus melawan pikiran-pikiran di luar nalar dan di luar akal sehat.

14 Februari 2024, ke-ABADI-an Edelweis untuk tegak lurusnya ke-DEMOKRASI-an. Cinta TULUS, Nusantara.

Kalaulah, tangisnya almamater tak dianggap, setidaknya jangan lukai IBU PERTIWI. Salam DEMOKRASI.

 

Penulis, Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi Segaris.co

 

Tags: BungaDemokrasiEdelweisNusantarasegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

by Ingot Simangunsong
12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  PERNAH dengar kata pemakzulan saat berita politik lagi panas-panasnya? Biasanya istilah ini muncul ketika ada desakan...

Read more
Kolom

Jika Gibran dimakzulkan, Apa yang terjadi pada pemerintahan dan peta politik Indonesia?

by Ingot Simangunsong
25 September 2026 | 09:01 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong WACANA pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian publik seiring bergulirnya perkara hukum yang...

Read more
Oplus_131105
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
0

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG  PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa...

Read more
Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more

Berita Terbaru

News

Tiga warga apresiasi Daud Simanjuntak, keluhan infrastruktur cepat ditindaklanjuti

18 Oktober 2026 | 08:46 WIB
News

Henry Dunan Pardede: “Daud Simanjuntak, figur mumpuni yang cepat tanggap, peduli dan terbuka untuk semua kalangan”

17 Oktober 2026 | 21:59 WIB
News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus