Segaris.co
Minggu, 19 Juli 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom
Pimpinan Redaksi Segaris.co, INGOT SIMANGUNSONG

Pimpinan Redaksi Segaris.co, INGOT SIMANGUNSONG

ke-ABADI-an bunga EDELWEIS dan ke-DEMOKRASI-an

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
1 Februari 2024 | 23:41 WIB
in Kolom

Catatan | Ingot Simangunsong

Bunga Edelweis (Leontopodium alpinum) adalah bunga yang tumbuh di daerah pegunungan tinggi, khususnya di wilayah alpen di Eropa.

Namun, bunga ini juga ditemukan tumbuh di pegunungan tinggi di Asia, termasuk di Indonesia.

Ciri khas utama dari bunga Edelweis adalah kecantikan dan ketahanannya terhadap cuaca ekstrem di pegunungan.

Bunga ini memiliki warna putih bersih dan tumbuh di tanah yang berbatu atau berpasir. Daunnya berbulu-bulu halus untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik dan suhu dingin di pegunungan.

Bunga Edelweis memiliki makna yang mendalam dalam budaya populer.

Di beberapa negara, bunga ini dianggap sebagai simbol keabadian, keberanian, dan cinta yang tulus.

Keindahannya yang khas dan keberadaannya yang langka membuatnya sering menjadi objek legenda dan cerita rakyat di daerah pegunungan.

Di Indonesia, bunga Edelweis ditemukan tumbuh di beberapa pegunungan tinggi, seperti di Gunung Papandayan, Gunung Gede, dan Gunung Rinjani.

Kehadirannya menambah pesona alam pegunungan Indonesia yang mempesona.

Namun, popularitas bunga Edelweis juga membawa dampak negatif. Karena keindahannya, bunga ini sering dipetik oleh para pendaki gunung sebagai tanda prestasi atau kenang-kenangan.

Hal ini menyebabkan penurunan populasi bunga Edelweis di beberapa daerah.

Oleh karena itu, upaya konservasi dan perlindungan terhadap bunga Edelweis menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan dan keberadaannya di alam.

Dengan kecantikannya yang abadi dan simbolisme yang mendalam, bunga Edelweis tetap menjadi daya tarik yang menakjubkan bagi pengunjung pegunungan tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Apa kaitannya dengan ke-demokrasi-an di negeri kita, INDONESIA. Tentu tidak ada sama sekali “benang merah” yang kental untuk mempertemukan bunga Edelweis dengan ke-demokrasi-an.

Yang terasa hanya kesamaan aroma, yakni penurunan populasi sehingga sangat dibutuhkan AKAL SEHAT untuk menjaga keberlangsungan dan keberadaan bunga Edelweis dan ke-demokrasi-an di alam raya, NUSANTARA.

[ Betapa… sempat terasa indahnya ritme ke-demokrasi-an yang dibayar mahal dalam gelegar REFORMASI 1998 dan meregangkan puluhan nyawa.

Pesta demokrasi — masih layakkah disebut — yang akan digelar 14 Februari 2024, menjadi tersandera keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang meloloskan seorang calon wakil presiden di luar nalar dan akal sehat.

Ke-demokrasi-an yang lulu-lantak di ruang kekuasaan, yang tidak disangka-sangka bergerak ke arah berlawanan dan mengabaikan kebersamaan yang sudah terjalin demikian lamanya.

Tidak sedikit yang harus patah arang karena perubahan yang membuat rasa mual karena muak.

Apa yang pernah ditulis tentang ketulusan hati, ternyata hanya sekadar casing yang menutupi kondisi sebenarnya, busuk dan bernana.]

Bunga Edelweis [ walau sedang berjuang mempertahankan populasi ], diharapkan dapat menjadi lambang keabadian rasa cinta tulus bagi para pengabdi ke-demokrasi-an di alam raya, NUSANTARA.

Jika air mata almamater pun tidak digubris karena perubahan alur pikir tak adab, biarlah itu mati dalam senyapnya.

Bagi akal SEHAT, bunga Edelweis diposisikan pada tangan calon pemimpin yang setia berada di ruang ke-demokrasi-an.

Ke-demokrasi-an harus tegak lurus melawan pikiran-pikiran di luar nalar dan di luar akal sehat.

14 Februari 2024, ke-ABADI-an Edelweis untuk tegak lurusnya ke-DEMOKRASI-an. Cinta TULUS, Nusantara.

Kalaulah, tangisnya almamater tak dianggap, setidaknya jangan lukai IBU PERTIWI. Salam DEMOKRASI.

 

Penulis, Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi Segaris.co

 

Tags: BungaDemokrasiEdelweisNusantarasegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Ingot Simangunsong
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

by Ingot Simangunsong
18 Juli 2026 | 07:53 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  SELAMA puluhan tahun, nama Etiopia identik dengan kelaparan dan kemiskinan. Namun dalam dua dekade terakhir, negara...

Read more
Ingot Simangunsong
Kolom

Tipping Point terberantasnya korupsi di Indonesia: Mungkinkah terjadi?

by Ingot Simangunsong
16 Juli 2026 | 08:52 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong KORUPSI masih menjadi salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia. Hampir setiap tahun, aparat penegak hukum mengungkap...

Read more
Kolom

RUU Perampasan Aset: Mengapa terus tertunda saat rakyat menanggung dampak korupsi?

by Ingot Simangunsong
13 Juli 2026 | 06:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong KORUPSI bukan sekadar pelanggaran hukum. Kejahatan ini merampas hak masyarakat atas pendidikan yang layak,...

Read more
Kolom

Nama Celine Evangelista muncul di tengah kasus Febrie Adriansyah, Apa benang merahnya?

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 22:00 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong PENETAPAN mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, sebagai...

Read more
Kolom

Dari pemburu Koruptor menjadi Tersangka: Runtuhnya jejak kekuasaan Febrie Adriansyah

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 01:34 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong MANTAN Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, kini menghadapi babak paling...

Read more
Tak Berkategori

Ketika Rakyat mengencangkan ikat pinggang, mengapa korupsi justru semakin beringas?

by Ingot Simangunsong
22 Juni 2026 | 06:46 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong  DI tengah kehidupan masyarakat yang semakin berat, pertanyaan ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari: mengapa...

Read more

Berita Terbaru

News

‎Pemkab Taput lakukan penyegaran birokrasi, tekankan kompetensi dan integritas

19 Juli 2026 | 18:34 WIB
News

‎Bupati Taput dorong penguatan karakter ‘SAITAPAIAS’ dan literasi ‘TAPAMAJUMA’ di SMPN 1 Tarutung

19 Juli 2026 | 16:15 WIB
News

19 Juli 2026 | 14:25 WIB
News

Residivis Narkoba ditangkap di depan Gereja HKBP Sukadame, sabu dan ganja disita

19 Juli 2026 | 13:57 WIB
News

Timsus Dayok Mirah patroli malam, amankan dua motor berknalpot brong

19 Juli 2026 | 11:42 WIB
News

Wesly Silalahi hadiri Reuni Akbar SMP Cinta Rakyat 1, kenang masa sekolah

19 Juli 2026 | 05:12 WIB
News

Bhabinkamtibmas Polsek Siantar Selatan mediasi perselisihan Aantarwarga

18 Juli 2026 | 15:15 WIB
News

Kapolres Pematangsiantar pimpin latihan menembak tingkatkan kesiapsiagaan personel

18 Juli 2026 | 15:03 WIB
News

Polres Pematangsiantar gelar Baksos di Panti Jompo

18 Juli 2026 | 14:14 WIB
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

18 Juli 2026 | 07:53 WIB
News

UPDATE: Korban meninggal kecelakaan beruntun di Sibolangit bertambah menjadi 4 orang

17 Juli 2026 | 18:24 WIB
News

Kecelakaan beruntun libatkan tujuh kendaraan di Sibolangit, satu orang dilaporkan meninggal

17 Juli 2026 | 18:00 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita