Oleh | Raden Zieo Suroto
DENGAN PEMILIHAN LEGISLATIF (Pileg) Sistem Proporsional Terbuka, demi berebut kursi, semua partai politik, ternyata telah terperangkap dalam jebakan betmen, yang mereka bikin sendiri.
Karena demi berebut kursi, mereka terpaksa atau dipaksa mengajukan para Caleg-nya, adalah siapa pun yang buanyak duit dan berani bakar-bakar duit. Atau pun yang penting para artis populer.
Akibatnya, dari Pileg ke Pileg, semakin lama semakin banyak RAKYAT PEMILIH yang semakin bangga dan gembira menjadi PECANDU POLITIK UANG!!!
Salah Wong Cilik-kah ini???!!!
Demokrasi Tuna Adab Menuju Biadab
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, atau MBR atau WongCilik, yang bikin bangga dan gembira mereka saat ini, adalah Politik Uang. Karena mereka pun berkesempatan terima uang dari para Caleg sana, Caleg sini, pokoknya dari sebanyak-banyaknya Caleg.
Tapi nanti yang dicoblos, khan hanya satu Caleg. Atau pun sekalian Coblos aja semua. Bahkan ada juga yang sekalian Golput alias tidak pergi ke TPS. Gitu aja kok repot!! Guuawaat nih, hohoho..!!
Almarhum Buya Syafii Maarif bilang Demokrasi Indonesia memasuki fase Tuna Adab. Sabar Mangadoe telah lama menyempurnakannya menjadi: Demokrasi Tuna Adab Menuju Biadab. Ngeriii sekali memang Monster Politik Uang ini.
Bangga dan Gembira Ngakalin dan Tipa-Tipu Caleg
Para Pecandu Politik Uang merasa bangga dan gembira karena rame-rame berhasil telah NGAKALIN dan TIPA-TIPU para Caleg. Minimal mereka merasa berkuasa dan berdaulat paling tidak 5 tahunan sekali-lah.
Meski pun semakin lama semakin banyak dari mereka yang telah sadar dan tahu bahwa tindakan mereka, sebut saja sebagai semakin Kecanduan Politik Uang, sesungguhnya sedang membunuh masa depannya sendiri, keluarga dan masyarakat itu sendiri, tapi apa pilihan lain??
Padahal Data Demokrasi penduduk kita melaporkan bahwa jumlah orang dewasa (atau jumlah pemilih 290 jutaan) yang hanya lulusan SD 64%. Semakin gawat, khan Wong Cilik.
Apakah Caleg-caleg yang mengandalkan Politik Uang ini yang layak untuk duduk di DPR-RI dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota???
Hmmmnnn ⁉️ Fakta politiknya, semakin lama semakin banyak Caleg yang berhasil menjadi anggota DPR-RI dan DPRD Propinsi/Kabupaten/Kota karena metoda andalannya adalah Politik Uang.
Apakah anggota DPR yang dipanggil Yang Mulia yang seperti ini yang diharapkan banyak partai dan para politisi dengan mereka tetap ngotot mendukung Sistem Proporsional Terbuka?
Pileg dengan Sistem Proporsional Terbuka, yang telah diterapkan 3X, yaitu sejak Pileg 2009, 2014 dan 2019 telah terbukti malah semakin menyuburkan Politik Uang??
Yang pasti, partai yang minim kader, apalagi Nihil Kader akan berjuang keras agar Pileg Sistem Proporsional Terbuka. Bahkan, sampai kini, hanya PDI Perjuangan yang mendukung Pileg dengan Sistem Proporsional Tertutup.
Ironisnya, banyak sekali dari kaum kelas menengah bangsa kita yang peduli politik, sadar atau pun tak sadar, mereka mendukung Pileg Sistem Proporsional Terbuka. Dan sudah barang tentu mereka menolak Sistem Proporsional Tertutup, dikarenakan semata-mata sedang menderita RabunPolitik yang kronis dan akut. Tapi bagi mereka yang paham, tentunya pasti motifnya adalah kejahatan politik!!!
Semoga saja jiwa dan pikiran serta mata dan telinga mereka semua segera tercelikkan dan tercerahkan. Amin!!!
Penulis, Raden Zieo Suroto, Ketua Umum DPP DGP #DulurGanjarPranowo